Ramadhan adalah bulan yang paling mulia, harinya penuh dengan nilai jihad, malamnya penuh gemerlap keberkahan. Ia datang setelah setahun tak berkunjung, mengobati kerinduan orang-orang saleh yang selalu menanti kehadirannya. Allah SWT telah memberikan kehormatan yang sangat tinggi kepada Ramadhan, pada bulan ini Al-Qur’an al-Karim sebagai pedoman hidup umat manusia diturunkan dari lauh al-Mahfuzh ke langit dunia yang kemudian turun ke bumi melalui Rasulullah SAW dengan perantara malaikat Jibril a.s.
Maka tidak berlebihan jika bulan Ramadhan merupakan sebuah nostalgia tentang proses turunnya Al-Qur’an al-Karim, saat-saat dikajinya, dan masa-masa sosialisasi kepada masyarakat jahiliyah. Pernyataan tersebut dikuatkan dalam surat al-Baqarah/2 ayat 185, yang berbunyi “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai pentunjuk-petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Berpijak dari ayat tersebut, pada sebagian orang, Ramadahan dijadikan sebagai ajang untuk berlomba-lomba memperbanyak khatam (menamatkan) Al-Qur’an. Di masjid, musholla, surau, sudut rumah, bahkan hingga di pematang sawah pun pada bulan Ramadhan sayup-sayup terngiang alunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Ketika Ramadhan tiba, para ulama salaf mengkhususkan waktunya selama sebulan penuh untuk bercengkerama dengan Al-Qur’an, tidak mau beranjak dari tempatnya kecuali dengan Al-Qur’an, tidak ingin berbicara kecuali membicarakan Al-Qur’an.